Ke mana perginya bunyi d? "used to" punya dua cara baca yang sama sekali berbeda
Kamu mungkin sudah membaca "used to" ratusan kali tanpa sadar bahwa frasa ini punya dua cara pengucapan. Kadang terdengar samar, seperti "yustə", kadang jelas dengan d bersuara: "yuzd tu". Ini bukan soal diucapkan cepat atau lambat — ini dua struktur gramatikal berbeda yang kebetulan ditulis sama persis.
Tiga "used", tiga fungsi berbeda
- Bentuk lampau biasa dari kata kerja use. I used a dictionary. Tindakan konkret, biasanya diikuti objek.
- Used to + kata kerja dasar: kebiasaan masa lalu yang sudah berakhir. I used to smoke. Selalu diikuti bentuk dasar, tidak pernah kata benda — hanya bicara soal masa lalu.
- Be/get used to + kata benda atau bentuk -ing: "sudah terbiasa dengan". I'm used to the noise. I'm getting used to working nights. Di sini to adalah preposisi, jadi bisa diikuti kata benda atau bentuk -ing.
Empat huruf yang sama, tiga peran gramatikal berbeda — dan pengucapannya mengikuti garis pemisah itu dengan tepat.
Aturannya: hanya yang sudah tergramatikalkan yang runtuh
Sebagai bentuk lampau biasa, used mempertahankan d bersuara penuh: used a hammer /juːzd/. Tidak ada yang istimewa, ia berperilaku seperti kata kerja beraturan lainnya.
Used to untuk kebiasaan masa lalu itu berbeda. Hampir selalu diikuti to yang tak bertekanan, frasanya sangat sering dipakai, dan gramatikanya benar-benar tetap — selalu lampau, selalu diikuti kata kerja dasar. Penutur asli memperlakukan seluruh blok ini sebagai satu unit: d di akhir menjadi tak bersuara karena bertemu t sesudahnya, kedua t melebur, dan seluruh frasa runtuh menjadi /ˈjuːstə/. Mekanisme yang sama persis dengan gonna atau wanna — makin sering dan makin tetap gramatikanya, makin frasa itu terkompresi menjadi satu blok bunyi yang padat.
Be/get used to, yang berarti "terbiasa dengan", tidak runtuh seperti itu. Di sini used adalah kata sifat sungguhan yang membawa makna inti kalimat, jadi ia mempertahankan bobotnya. D di akhir tetap bersuara: /ˈjuːzd tə/. Ia tidak melebur dengan to yang mengikutinya.
Ucapkan dua kalimat ini berurutan dan kontrasnya langsung terasa:
- I used to live in Tokyo. /aɪ ˈjuːstə lɪv ɪn ˈtoʊkioʊ/ — Dulu tinggal di sana, sekarang tidak lagi.
- I'm used to living in Tokyo. /aɪm ˈjuːzd tə ˈlɪvɪŋ ɪn ˈtoʊkioʊ/ — Sekarang tinggal di sana dan sudah terbiasa.
Ejaannya hampir identik, maknanya justru berlawanan. D yang bertahan atau menghilang itulah yang memberi tahu pendengar makna mana yang dimaksud, bahkan sebelum gramatikanya diproses.
Perdebatan ejaan yang tidak memengaruhi pengucapan
Buku tata bahasa kadang berdebat apakah setelah did seharusnya ditulis "use to" atau "used to", karena did sudah membawa bentuk lampau: Did you use to live in Paris? I didn't use to like coffee. Perdebatan itu hanya ada di atas kertas. Saat diucapkan, ejaan mana pun akan terdengar sama-sama runtuh: /ˈjuːstə/, tanpa perbedaan yang bisa didengar.
Cara melatihnya
Ambil pasangan minimal: "I used to work here" dan "I'm used to working here". Pada kalimat pertama, used to runtuh menjadi satu ketukan padat, /ˈjuːstə/, d nyaris tak terdengar. Pada kalimat kedua, used mempertahankan sukunya sendiri, d jelas bersuara, dan to mengikuti sebagai kata terpisah yang lebih ringan. Latih kontras ini, dan kamu mungkin sadar selama ini mengucapkan kedua kalimat dengan cara yang sama — sesuatu yang tidak pernah dilakukan penutur asli.
Tidak yakin apakah used dalam sebuah kalimat seharusnya runtuh atau tetap jelas? PHONO membaca teks bahasa Inggris apa pun lewat kamera dan menandai setiap kata dengan IPA, menunjukkan persis di mana ujaran tersambung runtuh dan di mana tidak, lengkap dengan pengucapan Inggris-Amerika dan Britania.